
Barcelona ternyata mengambil keputusan yang tidak biasa saat merekrut Pedri dari Las Palmas. Klub Catalan itu memilih bergerak cepat berdasarkan pengamatan langsung, meski penilaian data saat itu belum sepenuhnya mendukung potensi besar sang pemain.
Mantan direktur olahraga Barcelona, Ramon Planes, mengungkap cerita tersebut dalam wawancara bersama Juanma Castano di COPE.
"Kami melanggar semua teori big data," kata Planes.
Menurut Planes, Barcelona sudah memantau Pedri sejak masih berada di akademi Las Palmas. Meski belum menjalani debut profesional, klub merasa tidak bisa menunggu lebih lama karena sejumlah tim besar Spanyol juga mulai mengawasi perkembangannya.
"Klub besar lain di Spanyol juga memiliki informasi tentang Pedri," ujar Planes.
Momen yang mengubah segalanya terjadi dalam dua pertandingan di Marbella, termasuk laga penghormatan untuk Ruben Castro yang mempertemukan Real Betis dan Las Palmas.
Penampilan Pedri dalam laga tersebut membuat departemen olahraga Barcelona yakin mereka harus segera bertindak.
"Kami berpikir jika dia mulai bermain di Segunda Division, kami sudah terlambat," kata Planes.
Barcelona kemudian mempercepat proses negosiasi dan berhasil menyelesaikan transfer Pedri hanya dalam waktu satu pekan.
Keputusan itu kini dianggap sebagai salah satu transfer terbaik Barcelona dalam beberapa tahun terakhir. Pedri berkembang menjadi sosok penting di lini tengah Blaugrana dan salah satu gelandang terbaik dunia.
Saat ini, pemain asal Kepulauan Canary tersebut juga menjadi andalan timnas Spanyol di Piala Dunia 2026.
Planes turut mengungkap pandangannya soal posisi terbaik Pedri di lapangan. Menurutnya, sang gelandang lebih cocok bermain sebagai gelandang nomor delapan yang memiliki kebebasan untuk mengatur permainan sekaligus berada dekat dengan area penalti lawan.
"Dia harus bermain untuk mengatur bola dan menciptakan permainan, tetapi dekat dengan kotak penalti," ujar Planes.
Kisah Pedri menjadi bukti bahwa dalam sepak bola modern, angka dan algoritma tidak selalu menjadi penentu utama. Dalam kasus ini, Barcelona memilih mempercayai mata para pencari bakat mereka, dan keputusan itu terbukti tepat.
Tulis Komentar
Posting Komentar